Tuesday, September 16, 2014
   
Text Size
login

Pembelajaran Orang Dewasa

karakteristik-andragogiBagi anda yang pernah mengisi acara pelatihan, ceramah, dan sejenisnya, pernahkah anda menerima salah satu atau beberapa ungkapan berikut ini dari peserta :

    “Ini sih begitu-begitu juga, tak ada yang baru”
    “Itu kan teorinya, prakteknya dalam kenyataan bagaimana ?”
    “Katakan bagaimana mestinya, anda kan ahli !”
    “Semua ini tidak ada yang cocok untuk keadaanku”
    “Hebat sekali ! bermanfaat sekali untuk kita”
    “Kebiasaan kita kan sudah baik. Mengapa mestimerubahnya ?”

Ungkapan-ungkapan di atas, bisa jadi pernah anda terima atau dengarkan dari peserta saat anda mengisi acara. Pertanyaannya adalah, mengapa hal tersebut bisa terjadi ?. Jawabannya adalah karena kebanyakan peserta didik / peserta pelatihan anda adalah orang dewasa. Seni dan ilmu mendidik orang dewasa (Andragogi) jelas berbeda dengan seni dan ilmu mendidik anak-anak (Pedagogik). Para pendidik / trainer haruslah memahami orang dewasa dengan segala karakter dan gaya belajarnya yang khas sehingga perancangan proses pembelajaran / pelatihan yang akan dilaksanakan menjadi “pas” bagi mereka serta tujuan dan hasilnya pun dapat dicapai dengan baik. Pemahaman yang baik tentang belajar orang dewasa akan sangat menunjang dalam memilih metode pembelajaran / pelatihan yang tepat, cara mengevaluasi serta dalam memfasilitasi mereka dalam pelatihan secara baik.

 
Tujuan Instruksional

Setelah mendapatkan materi ini, diharapkan peserta dapat :

    1.Mengetahui batasan seseorang dianggap sebagai orang dewasa.
    2.Menjelaskan definisi dan istilah Andragogi
    3.Memahami bagaimana gaya dan karakter orang dewasa dalam belajar.
    4.Memahami asumsi-asumsi yang dijadikan landasan dalam pembelajaran orang dewasa.
    5.Mampu menjadi pembimbing terbaik bagi orang dewasa dalam belajar
    6.Menguasai metode pembelajaran bagi orang dewasa.
    7.Melakukan evaluasi program pembelajaran orang dewasa.

 
Pokok-pokok Materi

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka akan diberikan materi sebagai berikut :

    A.Siapakah Orang dewasa itu ?
    B.Definisi dan Istilah Andragogi
    C.Orang Dewasa dalam belajar
        1.Tujuan belajar Orang Dewasa
        2.Hambatan belajar orang dewasa
        3.Kunci Keberhasilan belajar orang dewasa
        4.Psikologi orang dewasa dalam belajar
        5.Suasana belajar orang dewasa
        D.Asumsi-asumsi Pembelajaran orang dewasa dan Implikasinya
        E.Pembimbing belajar orang dewasa
        F.Metode Pembelajaran Orang Dewasa
        G.Evaluasi belajar Orang dewasa

A. SIAPAKAH ORANG DEWASA ITU ?

            Seseorang dikatakan sebagai orang dewasa tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, tetapi juga dilihat dari segi sosial dan psikologis. Secara biologis seseorang dikatakan telah dewasa apabila ia telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut dewasa, apabila ia telah melakukan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila ia telah memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.

Darkenwald dan Merriam memandang bahwa seseorang dianggap dewasa apabila ia telah melewati masa pendidikan dasar dan telah termasuk usia kerja, yaitu sejak berumur 16 tahun.

Dengan demikian, orang dewasa diartikan sebagai orang yang telah memiliki kematangan fungsi-fungsi biologis, sosial, dan psikologis dalam segi-segi pertimbangan, tanggung jawab dan peran dalam kehidupan.

B. DEFINISI DAN ISTILAH ANDRAGOGI

            Istilah “Andragogi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “andr” yang berarti orang dewasa, sedangkan “agogos” berarti memimpin, mengamong, atau membimbing. Knowless (1980) mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar. Berbeda dengan Pedagogi yang diartikan sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak. Andragogi adalah suatu model proses pembelajaran peserta didik orang dewasa yang juga merupakan teknologi pelibatan orang dewasadalam kegiatan pembelajaran.

C. ORANG DEWASA DALAM BELAJAR

    Tujuan Belajar

            Bagi orang dewasa, belajar yang dilakukannya, biasanya selalu berorientasi kepada perubahan Perilaku dan pemenuhan kebutuhan. Perubahan perilaku yang dimaksud ialah perubahan perilaku yang digerakan oleh usaha perubahan sikap, memberi pengetahuan baru, melatihkan keterampilan baru, dan dalam hal tertentu penyediaan material pelatihan baru.

Adapun yang dimaksud pemenuhan kebutuhan yakni meliputi pemenuhan tingkatan kebutuhan manusia, khususnya orang dewasa sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Abraham Maslow tentang Piramida kebutuhan :

                                                Perwu

         Judan diri

                                             Harga diri

                                           Pengakuan

                                           Keamanan

                                               Fisik

    Hambatan Belajar Orang dewasa

Ada beberapa faktor yang secara fisiologik dapat menghambat orang dewasa dalam belajar :

    1.Penglihatan
    2.Pendengaran
    3.Kesehatan

Selain itu, secara psikologis pun ada beberapa hal yang harus diperhatikan yang merupakan sikap orang dewasa dalam belajar :

    1.Orang dewasa tidak diajar, tetapi dimotivasikan untuk belajar.
    2.Belajar terkadang merupakan proses yang menyakitkan bagi mereka.
    3.Bagi mereka Belajar adalah hasil mengalami sesuatu.
    4.Belajar adalah proses yang khas dan individual.
    5.Sumber terkaya untuk bahan belajar ada pada diri mereka sendiri
    6.Belajar adalah proses emosional dan intelektual sekaligus.
    7.Belajar adalah suatu proses evolusi.

    Suasana Belajar

Situasi belajar yang paling diharapkan orang dewasa adalah pada dasarnya adalah suasana yang kondusif, tidak formal / kaku baik secara fisik maupun nonfisik.

    Kunci Keberhasilan belajar orang dewasa

Yang menjadai kunci keberhaslilan pembelajaran orang dewasa terletak pada keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran.

D. ASUMSI YANG DIGUNAKAN DALAM TEORI ANDRAGOGI DAN IMPLIKASINYA

            Seorang pakar pendidikan Knowless, mengemukakan beberapa asumsi yang digunakan sebagaai landasan dalam pembelajaran orang dewasa, yang sekaligus berimplikasi kepada gaya mengajar yang digunakan.

No
    
ASUMSI
    

IMPLIKASI DALAM PEMBELAJARAN

1
    

Perbedaan KONSEP DIRI (Self Concept)
    

    Sikap yang terkesan menggurui akan ditanggapi negatif secara langsung maupun tidak langsung
    Mereka akan menolak perlakuan pendidik yang menyamakan dengan anak-anak / berttentangan dengan konsep dirinya sebagai individu mandiri.
    Kegiatan belajar sebaiknya bercorak antisipatif dan partisipatif

2
    

Penuh dengan PENGALAMAN (Full of experience)
    

    Mereka perlu dilibatkan untuk berperan sebagai nara sumber

3
    

Kesiapan untuk belajar (Readiness to Learn)
    

    Urutan program pembelajaran   perlu disusun sesuai kebutuhan mereka dan cara mempelajari yang diinginkan, dipilih dan ditetapkan oleh mereka sendiri.

4
    

Orientasi Belajar ( Learning Perspective)
    

    Proses pembelajaran diorientasikan kepada pemecahan masalah bagi kehidupan orang dewasa.

 
E. PEMBIMBING BELAJAR ORANG DEWASA
Fungsi Pembimbing

Dalam pembelajaran orang dewasa, seorang pendidik lebih tepat diistilahkan dengan sebutan pembimbing atau fasilitator. Fungsi seorang Pembimbing / fasilitator mencakup :

    1.Penyebar pengetahuan, dengan menyediakan sebanyak dan seluas mungkin bahan yang disampaikan
    2.Pelatih Kemampuan, dengan memberi contoh terlebih dahulu,kemudian memberi kesempatan mereka melakukannya
    3.Perancang Pengalaman belajar kreatif, dengan membatasi perannya sesedikit mungkin dan memberi anjuran serta semangat kepada mereka untuk selalu belajar secara aktif dan kreatif.

Sikap Pembimbing

            Sikap seorang pembimbing bagi orang dewasa mempunyai arti dan penagruh yang besar, sebab mereka pada dasrnya lebih kritis jika dibanding dengan anak-anak. Wiliam P. Golden Jr. dalam karangan pendeknya berjudul Becoming a Trainer mengemukakan sikap mental yang dianggapnya tepat untuk para pembimbing orang dewasa sebagai berikut ;

    1.Empati, dengan selalu melihat situasi sebagaimana mereka melihatnya.
    2.Kewajaran, bersikap jujur, apa adanya, terbuka dan konsisten
    3.Respek, dengan selalu berkomunikasi yang hangat, penuh perhatian dan penghargaan
    4.Komitmen dan kehadiran diri secar penuh
    5.Mengakui kehadiran orang lain, dengan selalu memberi kesempatan kepada mereka untuk mengungkapkan diri
    6.Membuka diri, baik menerima keterbukaan orang lain ataupun memngungkapkan diri jepada orang lain.
    7.Tidak menggurui
    8.Tidak menjadi “Ahli”, dengan tidak terpancing untuk selalu menjawab setiap pertanyaan peserta, seolah-olah dialah yang paling bisa.
    9.Tidak memutus pembicaraan
    10.Tidak berdebat
    11.Tidak diskriminatif

Disamping itu semua, juga ada beberapa sikap tubuh yang baik untuk diperhatikan , yaitu :

    1.Variasi
    2.Pandangan
    3.Tangan
    4.Langkah
    5.Senyum
    6.Termasuk Pakaian

 
F. METODE PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

            Pada dasarnya pemilihan metode sebaiknya didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai, yang secara garis besar terbagi ke dalam dua jenis :

    1.Proses belajr yang dirancang untuk menata pengalaman masa lampau yang dimiliki dengan cara baru, melalui konsultasi, latihan kepekaaan dan sebagainya
    2.Proses belajar yang dirancang untuk memberi pengetahuan / pengalaman / keterampilan baru

Secara lebih detail, sebaiknya metode yang digunakan adalah :

    Ceramah dengan alat peraga yang menarik
    Diskusi
    Pemeranan (Role Playing)
    Pengalaman terstruktur

 
G. EVALUASI BELAJAR ORANG DEWASA

            Evaluasi belajar seperti yang dialkukan di sekolah-sekolah formal, misalnya dengan ulangan-ulangan, ujian, dsb, tidak cocok untuk digunakan kepada orang dewasa. Sebab yang menjadi pembeda antara pembelajaran orang dewasa dengan pendidikan konvensional ialah bahwa dalam pembelajaran orang dewasa tidak ada unsur paksaan, mereka belajar atas kehendak sendiri. Karenanya bentuk evaluasinya pun herus mencerminkan kehendak bebas yang sama seperti proses belajarnya itu sendiri. Singkatnya mereka harus belajar menilai sendiri sukses dan gagalnya mereka. Istilah yang tepatnya ialah UJI DIRI (Self Examination).

            Adapun cara yang dapat digunakannya, yakni sebagai berikut :

    1.Umpan balik, dengan secara bergantian tiap peserta mengemukakan pikieran dan peraasaannya mengenai materi hari itu.
    2.Refleksi, dengan meminta kesunyian sekitar lima menit untuk setiap peserta dapat merenungkan apa yang mereka peroleh hari itu, lalu dikemukakan nantinya serta ditanggapi oleh pembimbing atau peserta lainnya.
    3.Diskusi Kelompok, dengan membagi mereka dalam kelompok kecil, lalu disana mereka memberikan evaluasi masing-masing dan buat laporannya.
    Kuesioner, dengan membagikan formulir pertanyaan yang disiapkan dengan variasi pertanyaa sesuai kebutuhan.

Login Form