Wednesday, November 26, 2014
   
Text Size
login

Pascapanen Kedelai

Pemanenan merupakan kegiatan yang sangat menentukan baik atau buruknya hasil serta berpengaruh terhadap tinggi atau rendahnya hasil, sehingga akan mempengaruhi pendapatan usahatani secara ekonomi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan adalah umur panen, waktu panen, dan cara pemanenan.
A.Umur  Saat  Panen
Kematangan kedelai hingga siap dipanen sangat bergantung pada varietas dan ketinggian tempat. Akan tetapi saat pemanenan juga bergantung kepada tujuan penggunaan.
Berdasarkan varietasnya terdapat varietas umur pendek atau genjah yaitu kedelai yang sudah dapat mencapai umur panen kurang dari 80 hari,  kedelai umur sedang yaitu dapat mencapai umur panen pada  80-85 hari, dan kedelai umur dalam yang mencapai umur panen lebih dari 86 hari.
Ketinggian tempat mempengaruhi kematangan fisiologis. Pada daerah yang semakin tinggi dari permukaan laut pada umumnya kematangan fisiologis tertunda, sedangkan semakin rendah daerahnya akan semakin cepat mencapai kematangan fisiologis. Perbedaan umur panen antara daerah dataran tinggi dengan daerah dataran rendah sekitar 10-20 hari.
Tujuan penanaman kedelai menentukan umur panen. Kedelai yang akan digunakan untuk bahan konsumsi dipanen pada umur 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipanen pada umur 100 – 110 hari.
Dengan adanya berbagai varietas dan tujuan penanaman maka untuk mengetahui kedelai siap panen dapat dilihat dari ciri-cirinya agar panen dapat dilakukan pada saat yang tepat.
Adapun kedelai yang sudah matang secara fisiologis, cirinya adalah sebagian besar daun (90-95%) sudah menguning kecoklatan lalu gugur, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit. Batang-batangnya sudah kering, demikian juga buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang  berwarna kuning agak coklat dan gundul.
Pemanenan yang tertunda,  pada musim kemarau, menyebabkan  polongnya akan semakin tua, kering, pecah, dan biji keluar jatuh sebelum panen dan selama panen sehingga banyak kehilangan hasil dan menurunkan produktivitasnya.
Pemanenan kedelai yang terlalu awal yakni stadium belum cukup umurnya atau polongnya masih hijau dapat mengakibatkan kuantitas dan kualitas produksi menurun. Selain itu, pemanenan yang terlalu awal dapat menyebabkan polong mudah busuk, bercendawan, dan berkeriput sehingga mutu bijinya kurang baik. Jika biji dipergunakan untuk benih akan rendah daya kecambahnya.
Kehilangan hasil dapat terjadi di kebun dan selama pengangkutan dari kebun ke tempat pengumpulan brangkasan. Disamping itu, kehilangan hasil dapat terjadi karena tangkai buah mengering dan lepas dari cabangnya.  Sedangkan penundaan panen, jika musim hujan, akan menyebabkan banyak biji yang membusuk ditumbuhi cendawan.
B.Cara dan Waktu Panen
Pemananen dilakukan dengan menggunakan sabit bergerigi atau sabit biasa. Penggunaan sabit bergerigi lebih efisien. Untuk seluas 100 m², dengan sabit bergerigi membutuhkan waktu 40 menit, sedangkan sabit biasa 60 menit.
Pangkal batang dan akar tanaman kedelai tetap ditinggalkan dalam tanah karena mengandung rhizobium sebagai sumber nitrogen dan penyubur tanah. Pemotongan harus dilakukan dengan hari-hati karena kedelai yang sudah tua mudah rontok.
Hasil pemotongan dalam bentuk brangkasan harus segera dikumpulkan pada suatu tempat dan dipisahkan menurut tingkat kematangan polong. Dari tempat pengumpulan ini, selanjutnya hasil panen diangkut ke tempat penjemuran dengan alat bantu karaung atau bakul.
Pemanenan kedelai sebaiknya dilakukan pada pagi hari pada saat cuaca cerah, dan kedelai masih agak segar sehingga tidak mudah pecah. Pemanenan yang dilakukan pada saat hujan menyebabkan biji dapat rusak setelah dilakukan pengumpulan dan penumpukan.
C.Taksasi Hasil
Menaksir hasil dilakukan dengan teknik ubinan atau sampel. Kegunaan ubinan adalah untuk menentukan rata-rata hasil hektar.
Petak ubinan dibuat dengan cara sebagai berikut:
-    Buat garis diagonal di lahan.
-    Tentukan 3 tempat di tengah-tengah diagonal.
-    Buat tata letak bujursangkar di tempat tadi dengan ukuran 2,5 x 2,5 m.
-    Gunakan tali, ajir, dan meteran untuk menetapkan tanda lokasi ubinan.
Dari petak ubinan seluas 6,25 m²  tersebut, misalnya diperoleh hasil biji kedelai  1,2 kg.   Maka, ditaksir produksinya adalah 1,92 ton per hektar

Login Form